Sulistyo-Basuki
Pustaka Alur, Juni, 2026
vi + 90 hal, 15×23 cm, bookpaper, BW
ISBN (dalam proses)
Kategori: Buku Ajar
Sasaran pembaca: > 17 tahun
Harga: Rp80.000
Stok: Ada
Kita dapat mengatakan bahwa museum memenuhi “fungsi dokumenter indra”. Karena itu di museum, rujukan hanya akan dibuat bila menyangkut fungsi mental yang sensitif (Deloiche, 2007). Memarjinalkan rillita, (marginalizing rillity) karena museum “menetapkan dirinya sementara memisahkan dirinya” (specify it self while separating it self) (Lebensztein, 1981).
Tidak seperti di bidang politik, yang memungkinkan menteorisasi manajemen kehidupan manusia dalam masyarakat melalui institusi semacam negara; hal tersebut untuk dunia museal menteoirisasi bagaimana sebuah institusi melalui pemisahan dan kontekstualisasi artinya dengan menunjukkan sebuah citra dalam ruang penyajian sensitif “pada marjin rillitas paripurna” (Sartrez). Inilah esensi sebuah utopia, artinya ruang imajiner total, yang pasti bersifat simbolis namun tidak perlu takbenda.
Ini memberikan ciri apa yang disebut fungsi utopia museum, karena untuk mengubah dunia, seseorang harus mampu membayangkannya sebaliknya, dan karena itu untuk menjaga jarak darinya. Karena itu mengapa utopia sebagai sebuah fiksi tidak selalu kurang baik melainkan mengimajinasikan dunia yang berlainan.





Leave a Reply